Sejarah Villa Bukit Hambalang

Kode Iklan Di Sini
Nama Villa Bukit Hambalang di ambil dari nama Gunung dan Desa yang berada disana, dengan ketinggian sekitar 630 mdpl, pemandangannya tidak kalah dengan pemandangan dengan Puncak Cisarua Bogor, dengan Fasilitas Penginapan, Ruang Meeting, Aula Terbuka, Lapangan Futsal, Lapangan Kemping, Kolam Renang dan Wahana Outbound, Wahana Agro Secara administratif Villa Hambalang masuk ke wilayah Desa Hambalang Kecamatan Citeureup Kab. Bogor Jawabarat . Akses menuju ke Villa Hambalang tidaklah Sulit dan bebas macet dari arah jakarta dan bogor keluar di Sentul Sirkuit atau bisa melalui Jl.Pahlawan Citeureup juga bisa lewat Jl. Raya Tajur. - Fasilitas Agrowisata Villa Bukit Hambalang - Harga Paket Agrowisata Villa Bukit Hambalang - Harga Paket Outbound Agrowisata Villa Bukit Hambalang Sejarah Hambalang Hambalang dan Citeureup dahulunya merupakan hutan belantara. Daerah ini kemudian dibuka oleh seorang pejuang serta penyebar agama Islam dari Banten. Beliau adalah Pangeran Shoheh, penduduk lokal menyebutnya dengan nama Eyang Sake. Dari literature sejarah, Pangeran Shoheh adalah salah satu putra Sultan Banten yakni Sultan Ageng Tirtayasa. Pangeran Shoheh bersama dengan saudara kandungnya, Pangeran Sugiri mendapat tugas dari Ayahandanya menyerang Kompeni Belanda di Batavia tahun 1682. Namun, Banten akhirnya takluk kepada VOC Belanda, karena politik adu domba antara Sultan Ageng Tirtayasa dan salah satu putranya sendiri, yakni Sultan Haji. Melihat Kesultanan Banten telah jatuh kepada VOC, maka Pangeran Shoheh tidak kembali ke Banten. Namun membuka lahan dan menetap yang sekarang dikenal dengan wilayah Citeureup. Sedangkan saudaranya, Pangeran Sogiri, membuka lahan dan menetap sampai wafat didaerah yang dikenal dengan nama Jatinegara Kaum (Jakarta). Sedanglan Makam Pangeran Shoheh terletak di Desa Karang Asem Timur Kecamatan Citeureup. Tempatnya mudah untuk dikunjungi. Pangeran Shoheh merupakan pemilik Perkebunan Tjitrap, yang kini dikenal dengan nama Citeureup. Dan wilayah Hambalang masih termasuk areal perkebunan Tjitrap tersebut. Wilayah Perkebunan Tjitrap pada masa penjajahan Belanda sebagian besar jatuh kepada tuan tanah Belanda, yang bernama Mayor Yance. Menurut “inohong” (Tokoh Masyarakat) Desa Hambalang tersebut, jatuhnya sebagian lahan tersebut ke Belanda karena ada semacam perjanjian yang disebut dengan ‘Kontrak Baron”. Sampai saat ini, saya belum menemukan literature yang menjelaskan tentang “Kontrak Baron” tersebut. Saya baru menemukan literatur Mayor Yance dari www.citeureup.net. Menurut situs tersebut, Mayor Jantje (Yance ejaan lama-red) adalah seorang Mardijker ( sebutan bekas budak belian/para tawanan yang umumnya berasal dari Asia Selatan, Benggala) yang telah dibebaskan setelah bersedia pindah agama dari Katholik ke Protestan. Mardijker bisa dipadankan dengan istilah “orang-orang yang merdeka”. Mayor Jantje bernama asli Augustijn Michiels (1769-1833). Banyak orang yang belum mengenalnya, padahal dalam sejarah Batavia, dia-lah tokoh dari abad 19 yang sangat terkenal. Orang menjulukinya “de rijkste grondeigenaar van Java” atau pemilik tanah terkaya di Jawa. Beberapa tanah luas berada di bawah kepemilikannya seperti: Tjitrap (Citeureup), Cileungsi, Cimapag, Cipamingkis, Cibarusa, Tanah Baru, Sukaraja, Nanggewer dan terutama Klapa Nunggal dengan sarang burung waletnya sebagai sumber kekayaan yang terus mengalir tiada henti. Julukan Mayor diberikan kepadanya setelah ia mengakhiri karier militer selama 20 tahun, memimpin sebuah pasukan kaum Papang (merujuk nama suku Papango di Luzon, Philipina) bentukan pemerintah kolonial. Menurut “Pak Haji”, dulu di wilayah Tjitrap (Citeureup), ada Istana megah peninggalan Mayor Jantje, disebut dengan Gedung Bundar. Istana yang sangat artistik di Tjitrap itu akhirnya dihancurkan, sekitar tahun 1943, bukan oleh Pemerintah Kolonial tapi oleh masyarakat Citeureup yang ketakutan Belanda datang lagi untuk menjajah. Selain itu, kelaparan massal saat penjajahan Jepang, membuat rakyat saat itu nekat menghancurkan bangunan yang sudah ada sejak abad ke 18 itu. Zaman Gedor atau zaman Gedug menandai berakhirnya kekuasaan tuan tanah yang menghuni Istana Tjitrap sejak awal abad 18. Itulah sekelumit sejarah dari wilayah Tjitrap (Citeureup) sejak era Pangeran Shoheh sampai era Mayor Jantje (sebelum era Kemerdekaan) yang diceritakan tokoh masyarakat yang saya hormati tersebut.

You Might Also Like:

Disqus Comments